Mengenal Google Display Network (GDN)

Mengenal Google Display Network (GDN)

48

Kamu mungkin pernah mengunjungi sebuah website yang menjual sepatu atau baju yang kamu inginkan. Esok harinya, saat kamu menunjungi website lain, kamu menemukan produk yang kamu cari kemarin berada di halaman yang sama dengan website lain yang sedang kamu kunjungi. Entah link di halaman pencari Google, gambar dengan format GIF, atau foto hingga video testimoni produk tersebut. Inilah yang disebut dengan Google Display Network atau GDN.

GDN berfungsi untuk menambah leads, meningkatkan jumlah awareness dan exposure terhadap calon pelanggan, dan mengerucutkan target pasaran sehingga iklan atau campaign yang dilakukan bisa diarahkan tepat menuju sasaran. Selain itu, fitur yang disediakan GDN juga sudah lengkap, mulai dari penayangan iklan yang menarik, penentuan budget, kemampuan menganalisis hasil, bahkan menentukan target pelanggan yang tepat. Berdasarkan data dari Google, GDN mampu meraih 80% pengguna internet secara global. Namun syaratnya, kamu harus dapat menyiapkan media visual dengan berbagai ukuran agar dapat menyesuaikan dengan space yang tersedia.

Perbedaan GDN dengan Google Adwords

Selain perbedaan nama, ternyata GDN juga berjenis beda dengan Google Adwords. Jika GDN memerlukan beberapa media visual seperti foto, atau video, Google Adwords tidak bekerja sedetail itu. Saat kamu sedang googling dan menemukan kotak bertuliskan “Ad” di link teratas pada halaman utama pencarian Google, itulah yang disebut dengan AdWords. Sesuai dengan namanya, Google Adwords hanya menampilkan iklan dalam bentuk tulisan yang berfungsi untuk meningkatkan awareness terhadap suatu website.

Apa Saja Target GDN?

Salah satu alasan yang dapat kamu pertimbangkan untuk menggunakan GDN yaitu kemampuannya untuk menargetkan iklan hingga tepat menuju target sasaran brand atau produkmu. Fitur ini akan melacak cookies para pengguna internet sehingga para calon pelangganmu bisa mendapat exposure dari produk atau brand yang kamu iklankan. Berikut ini beberapa target yang bisa kamu fokuskan pada penggunaan GDN.

  • Keyword/Contextual Targeting

Targeting atau penargetan yang satu ini memfokuskan kata kunci atau tulisan tertentu. Kamu bisa menggunakan baik kata kunci maupun ribuan tema yang tersedia mengenai produkmu. Carilah kata kunci yang kira-kira relevan agar Google dapat menempatkan iklanmu di website yang sesuai dengan produkmu. Misalnya, jika kamu menjual bumbu tradisional Indonesia, gunakan kata kunci “resep” atau “memasak” agar nantinya iklanmu bisa ditempatkan di website yang menyediakan resep masakan Indonesia.

  • Placement Targeting

Penargetan yang satu ini memungkinkanmu memilih website yang nantinya akan menampilkan banner GDN. Kabar baiknya, jika kamu mengetahui traffic website yang ramai dan relevan dengan brand atau produkmu, kamu bisa memilih untuk menempatkan iklanmu di website tersebut. Namun, jika wawasanmu mengenai website yang memiliki banyak kunjungan masih kurang, gunakan cara-cara lain seperti di bawah ini:

  • Automatic placement:

    Secara otomatis, Google akan mencari website yang paling cocok dengan kata kunci yang kamu gunakan.

  • Managed placement:

    Kamu bisa memilih sendiri lokasi yang kamu tuju dan mengatur sendiri tawaranmu.

  • Negative placement:

    Pada tipe ini, kamu bisa menghapus beberapa kata kunci yang tidak sesuai dengan targetmu sehingga kamu dapat menyaring lagi kualitas calon pelanggan.

  • Topic Targeting

Melalui cara penargetan ini, kamu bisa memilih topik spesifik sehingga iklanmu akan muncul di website yang sesuai dengan jenis topik yang sudah kamu tentukan. Cara ini juga dapat memudahkanmu meningkatkan brand awareness bagi calon audiens atau pelangganmu. Beberapa contoh topik yang bisa kamu gunakan di antaranya adalah politik, olah raga, atau gaya hidup (lifestyle).

  • Remarketing Targeting

Pemasaran ulang juga bisa menjadi cara yang ampuh untuk memaksimalkan penggunaan GDN. Coba kamu bayangkan, jika seorang pengguna internet baru saja melihat-lihat produk di website-mu, lalu saat si pengguna berpindah website, dia akan melihat produk yang tadi sudah dilihatnya di websitemu, tentu produk tersebut akan diingatnya lebih lama ketimbang hanya melihat sekali, bukan? Tugas Google di sini adalah untuk membaca cookies pengguna internet agar produkmu dapat kembali muncul di halaman yang dikunjungi oleh pengguna tersebut, itulah tujuan remarketing.

  • Interest Targeting

Penargetan yang satu ini memungkinkanmu untuk memilih target pemasaran sesuai dengan hobi atau ketertarikan yang kira-kira dimiliki calon pelangganmu. Jika kamu sudah memahami minat atau hobi yang dimiliki oleh audiens yang ingin kamu tuju, hal itu tentu akan lebih baik. Semakin banyak pengguna yang sama-sama menemukan ketertarikan yang sama, conversion rate website-mu juga akan meningkat.

  • Geographic, Language, and Demography Targeting

Cara terakhir ini tergantung dari kebudayaan yang dimiliki oleh calon pelangganmu berdasarakan letak geografis, bahasa, serta demografi mereka yang terdiri dari jenis kelamin, usia, pekerjaan, dll. Kamu juga bisa menentukan bagaimana tampilan visual iklanmu jika kamu sudah menentukan kepada siapakah iklan tersebut akan dituju, misalnya jika kamu ingin mengiklankan produk alat tulis ke pengguna internet usia sekolah, buatlah tampilan visual dengan warna yang lebih cerah dan mudah dipahami.

Contoh GDN pada Kompas.com

Contoh GDN pada Viva.co.id

Contoh GDN pada News.yahoo.com

Contoh GDN pada Nova.grid.id

Tak hanya foto dan video iklan atau testimoni, kamu juga bisa menampilkan image dengan format GIF, atau video interaktif. Tapi ingat, jangan pasang terlalu banyak iklan jika kamu tidak ingin kehilangan calon pelanggan. Jangan lupa juga untuk menyiapkan materi visual yang tidak membosankan namun tetap menarik dan kreatif.

Keywords: google display network, gdn, apa itu gdn

Share: